Rabu, 08 September 2010

CERPEN

CERPEN

1. Cerpen adalah karangan pendek berbentuk prosa dan berisi penggalan

Peristiwa hidup tokoh.

1. Ciri-ciri cerpen adalha sebagai berikut.

a. Bersifat fiktif atau rekaan, namun isi ceritanya logis.

b. Pokok cerita berfokus pada satu aspek cerita yang menimbulkan kesan

dan efek tunggal.

c. Mengungkapkan masalah terbatas pada hal-hal yang penting saja.

d. Menyajikan cerita dengan cermat dan jelas.

3. Unsur-unsur dalam cderpen adalah sebagai berikut.

a. Tema, yaitu pokok pikiran yang mendasari suatu cerita.

b. Alur, yaitu jalinan peristiwabyang satu dengan peristiwa yang lain, yang menyatakan sebab-akibat terjadinya sesuatu sehingga menjadikan cerita lebih menarik. Bagian-bagian dalam alur adalah pemaparan,

penggawatan atau komplikasi(konflik), klimaks atau puncak konflik, anti klimaks atau pelarian, dan penyelesaian.

c. Tokoh, yaitu para pelaku yang berperan dalam sebuah cerpen.

- Tokoh protagonis, yaitu tokoh yang merupakan pendukung ide dan

merupakan pendukung ide dan merupakan pusat cerita.

- Tokoh antagonis, yaitu tokoh yang menentang ide.

- Tokoh tritagonis, yaitu tokoh pembantu yang berperan sebagai

Penengah.

d. Karajter, yaitu watak seorang tokoh dalam cerpen.

e. Setting, yaitu keterangan mengenai waktu, ruang, dan suasana

terjadinya cerita.

4. Langkah-langkah mengungkapkan kembali isi cerpen adalah sebagai

berikut.

a. Membaca sarana keseluruhan cerpen dengan seksama.

b. Memahami isi atau maksud ide poko setiap paragraph.

c. Mencari ide pokok setiap paragraph

d. Menceritakan dengan bahasa sendiri berdasarkan ide pokok yang telah

ditemukan.

5. Antologi cerpen adalah buku yang berisi kumpulan cerpen, baik hasil

karya seorang cerpenis maupun beberapa crpenis.

Contoh cerpen remaja

Uluran Tangan

Karya Silvia Irianti

Sri tampak begitu murung. Tidak seperti biasanya, hari ini ia begitu pendiam. Sifat dan sikap yang sangat ramah dan sopan membuat teman-temannya ingin mengetahui penyebab perubahan sikap Sri. Sebagai sahabat karibnya, aku juga ingin mengetahui penyebab kemurungan Sri. Setiap hari Sabtu, aku biasa mengajak Sri berjalan-jalan bersama ayah, ibu, dan adik-adikku. Ayah dan ibuku sudah menganggap Sri sebbagai anaknya senddiri. Ayah Sri telah meninggal dunia lima tahun yang lalu karena sakit kanker paru-paru. Jadi, sekarang ibunylah yang menopang hidupnya bersama dengan keempat adiknya. Akan tetapi, aku sungguh tidak menyngka peristiwa yang sangat tidak aku inginkan terjjadi. Sri menolak ajakanku dengan kasar dan mengatakan sesuatu yang menyakiti hatiku.

”Mulai sekarang, aku tak mau ikut kamu jalan-jalan lagi,” balasnya ketika kutanya dia mau ikut atau tidak. Aku betul-betul terkejut atas jawabannya itu.

Sesampainya dirumah, aku menceritakan semua peristiwa yang aku alami dan juga perubahan-perubahan yang terjadi pada diri Sri kepada ibuku. Ibu sangat sabar dan bijaksana dalam menghadapi permasalahan. Karena itulah, setiap kali aku mendapat kesulitan, hanya kepada ibuku aku berkeluh kesah. Ibuku menasehati agar aku menyadari hal itu.

”Sil, sebaiknya kautanyakan kepada Sri\, kesulitan apa yang tengah ia hadapi!”

”Apa benar ia mengalami kesulitan, Bu?”

”Ibu rasa demikian, tidak mungkin Sri berubah sikap jika tidak ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.”

”Betul juga, baiklah, aku akan mencoba menanykannya.”

Hari ini Sri tidak masuk sekolah, di dalam suratnya, ia sakit. Aku ingin tahu penyakitnya sehingga sepulang sekolah aku mampir ke rumah Sri. Tetapi, begitu tiba di rumah Sri, aku jadi kebingungan, apakah sebenarnya yang telah terjadi? Dua hari….. tiga hari…..lima hari…. sudah Sri tidak masuk sekolah. Sore itu aku baru pulang dari latihan upacara di sekolah. Aku terkejut ketika melihat Sri dengan seragam sekolah berada di tukungan jalan. Pakaiannya telah lusuh danj dekil, ia berdiri lunglai.

”Sri…, Sri….!” Kucoba memanggilnya kutunggu apakah ia menanggapi panggilanku atau tidak.

”Sil…, Silvi….!” Suaranya parau dan ia pun menghambuur kepelukanku. Ia menangis, sedih,. Aku mencoba membujuknya agar mau kuajak piulang ke rumahku. Ia setuju. Kusuruh dia mandi kemudian makan. Selanjutnya ayah, ibu, aku, dan Sri duduk di ruang tamu. Ibu meminta Sri menceritakan semua yang telah dialaminya. Sri menceritakan dari mula hingga akhir. Akhirnya kami tahu bahwa Sri belum membayar uang SPP dan Bu Rati memberi tenggang waktu hingga akhir bulan. Akan tetapi, hingga akgir bulan Sri belum sanggup membayar karena belum mendapatkan uang. Itu semua yang menyebabkan Sri pergi dari rumah dan tidak masuk sekolah. Ayah dan ibuku menasihati agar Sri tidak mengulangi perbuatannya pergi dari rumah.

”Kasihan ibu dan adik-adikmu!”

Ibu dan ayahku akhirnya mengangkat Sri sebagai anak asuh dan akan membantu mencukupi kebutuhan ekonomikeluargany.sri menangis haru dan bahagia. Dipeluknya ibuku dan diciumnya tangan ayahku. Sri memang anak yang rajin dan pandai, tidak ada salahnya ayah dan ibuku menjadikannya sebagai anak asuh. Malam itu juga, aku, ayah, dan ibuku mengantar Sri pulang. Sri dan ibunya mengucapkan terimakasi kepada ayah dan ibuku serta bersyukur atas pertolongan Tuhan. Esok harinya, Sri sudah kembali masuk sekolah dengan wajah yang berseri-seri. Bahagia, ya ia amat bahagia. Dalam hatiku pun mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah mengulurkan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang sedang menghadapi cobaan.

Harapanku, semoga kami slalu dalam lindungan dan pertolongan-Nya.Amin.

Setelah membaca cerpen tersebut dengan seksama, kita dapat menceritakan kembali dengan bahasa sendiri sebagai berikut.

Sri dikenal sebagai anak yang ramah dan sopan, Tiba-tiba sikapnya berubah menjadi tidak bersahabat dan pendiam. Silvia dan teman-temanya ingin tahu penyebab perubahan sikap Sri. Hal tersebut diceritakan Silvia kepada ibunya dan ibu Silvia menyuruh menanyakan langsung penyebab perubah sikap Sri sendiri. Ternyata perubahan sikap Sri disebabkan dia belum membayar SPP. Orang tua Silvia bersedia membantu Sri dengan dengan mengangkatnya sebagai anak asuh. Sri akhirnya gembira dan mengucap terimakasih kepada keluarga Silvia dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa pemurah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar